Wednesday, October 7, 2020

Riview Jurnal Penilaian Hutan

 

Nama                                   : Siti Annisa

NIM                                       : 181201047                

Kelas                                    : MNH 5

Mata Kuliah                      : Penilaian Hutan

              Dosen                                 : Dr. Agus Purwoko, S. Hut., M. Si.                                                                   

RIVIEW JURNAL

*      Jurnal

Judul Jurnal

Penilaian Kesehatan Hutan pada Berbagai Tipe Hutan di Provinsi Lampung

Judul

Penilaian Kesehatan Hutan pada Berbagai Tipe Hutan

Volume

Vol. 7 No.1 2019

Tahun

2019

Penulis

Rahmat Safe’i, Christine Wulandari, dan Hari Kaskoyo

Riviewer

Siti Annisa

Tanggal

07 Oktober 2020

·         Latar Belakang

                Penilaian kesehatan hutan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi hutan saat ini, perubahan, dan kecenderungan yang mungkin terjadi. Di Indonesia (termasuk di Provinsi Lampung), kesadaran tentang pentingnya kesehatan hutan dalam mencapai pengelolaan hutan yang lestari sampai saat ini masih kurang, apalagi pada berbagai tipe hutan sehingga permasalahan kesehatan hutan sejauh ini belum mendapat perhatian yang serius. Padahal kesehatan hutan merupakan upaya untuk mengendalikan tingkat kerusakan hutan yang tetap di bawah ambang ekonomi yang masih dapat diterima.

Tipe hutan (berdasarkan fungsi) yang ada di Provinsi Lampung antara lain: hutan mangrove (hutan lindung), hutan rakyat (hutan produksi), hutan lindung (hutan kemasyarakatan/HKm), dan hutan konservasi. Tipe-tipe hutan tersebut dibatasi dan dipengaruhi oleh kondisi ekosistem setempat dan sistem silvikultur yang diterapkan serta perspektif pengelolaan hutan yang akan dicapai. Oleh karena itu, indikator keberhasilan pengelolaan hutan tergantung kepada kondisi ekosistem setempat dan sistem silvikultur yang diterapkan, sehingga indikator kesehatan hutan harus disesuaikan dengan ekosistem setempat.

Pengembangan indikator kesehatan hutan di berbagai tipe hutan ini dimaksudkan untuk mengukur dan menilai tingkat kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan sehingga para pengelola hutan dapat mengetahui kondisi kesehatan hutan dan keputusan apa yang harus dilakukan terhadap kondisi tersebut secara cepat dan akurat. Karena hutan dikatakan sehat apabila hutan tersebut masih dapat memenuhi fungsinya sebagaimana fungsi utama yang telah ditetapkan sebelumnya.

·           Tujuan

                Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan indikator penilaian kesehatan hutan dan nilai status kondisi kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan di Provinsi Lampung.

·           Bahan dan Metode Penelitian

                Penelitian ini dilaksanakan di hutan mangrove dan hutan rakyat yang berada di wilayah Kabupaten Lampung Timur; hutan lindung (HKm) dan hutan konservasi (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan/TNBBS) yang berada di wilayah Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Metode penelitian ini melakukan langkah-langkah seperti:

1. Perumusan Indikator Jaminan Kualitas Kesehatan Hutan

Perumusan indikator jaminan kualitas dilakukan terhadap indikator ekologis kesehatan hutan yaitu: produktivitas, vitalitas, kualitas tapak, dan biodiversitas dengan cara melakukan wawancara terhadap informan kunci, yaitu para pakar (ahli dibidangnya/telah berkecimpung/ berpengalaman pada bidangnya; tidak harus/selalu mempunyai gelar akademik) kehutanan (petani, akademisi, dan pemerintah) di Provinsi Lampung. Hasil dari wawancara tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui skala prioritas dengan menggunakan metode AHP (Analytic Hierarchy Process).

2. Pembuatan Plot Ukur Kesehatan Hutan

Penetapan plot ukur berdasarkan tipe hutan. Pembuatan klaster plot FHM kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan sebanyak delapan klaster plot (32 plot ukur), yaitu masing-masing dua klaster plot di hutan mangrove, hutan rakyat, hutan lindung (HKm), dan hutan konservasi (TNBBS).

3. Pengukuran Kesehatan Hutan

Pengukuran kesehatan hutan dilakukan terhadap indikator ekologis yang dihasilkan dari perumusan indikator jaminan kualitas kesehatan hutan untuk masing-masing tipe hutan. Pengukuran kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan berdasarkan metode FHM.

4. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data dilakukan terhadap hasil pengukuran indikator kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan. Pengolahan dan analisis data hasil pengukuran indikator ekologis kesehatan hutan, sebagai berikut: pertumbuhan pohon dihitung sebagai pertumbuhan luas bidang dasar, kondisi kerusakan pohon dihitung berdasarkan nilai indeks kerusakan tingkat klaster plot (Cluster plot Level Index/CLI) , kondisi tajuk dihitung berdasarkan nilai peringkat penampakan tajuk (Visual Crown Ratio/VCR), keanekaragaman jenis flora/fauna menggunakan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Whiener , dan kesuburan tanah diwakili oleh Kapasitas Tukar Kation (KTK) hasil dari analisis tanah.

5. Penilaian Kesehatan Hutan

Penilaian kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan diperoleh dari nilai akhir kondisi kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan. Nilai akhir kondisi kesehatan hutan merupakan hasil perkalian antara nilai tertimbang dengan nilai skor parameter dari masing-masing indikator kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan. Dalam persamaan 1 tersebut, NKH merupakan nilai akhir kondisi kesehatan hutan, NT merupakan nilai tertimbang parameter dari masing-masing indikator kesehatan hutan, dan NS merupakan nilai skor parameter dari masing-masing indikator kesehatan hutan.

 

NKH = NT x NS           Persamaan (1)

 

  • Hasil

Jadi, hasil yang didapat yaitu :

1. Indikator Kesehatan Hutan Mangrove

Indikator vitalitas menempati tingkat kepentingan (skala prioritas) tertinggi dengan nilai 0,38, diikuti biodiversitas dengan nilai 0,33. Adapun kualitas tapak dan produktivitas menempati tingkat kepentingan terendah dengan nilai masing-masing 0,19 dan 0,10. Hal ini menunjukkan bahwa indikator vitalitas dan biodiversitas mampu memberikan jaminan kualitas dan dukungan dalam mengukur apa yang ingin diukur dalam kesehatan hutan mangrove. Adapun kualitas tapak dan produktivitas kurang mampu memberikan jaminan kualitas dan dukungan dalam mengukur apa yang ingin diukur dalam kesehatan hutan mangrove. Nilai tingkat kepentingan untuk indikator vitalitas yang sangat tinggi (0,38) menunjukkan bahwa kontribusi indikator vitalitas pada pencapaian kesehatan hutan mangrove sangat tinggi. Vitalitas dapat dijelaskan atau dicirikan oleh kondisi kerusakan pohon dan kondisi tajuk. Kerusakan pohon dan kondisi tajuk pohon mangrove adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon mangrove. Nilai tingkat kepentingan untuk indikator biodiversitas yang sangat tinggi (0,33) menunjukkan bahwa kontribusi indikator biodiversitas pada pencapaian kesehatan hutan mangrove sangat tinggi. Biodiversitas di hutan mangrove dapat dijelaskan atau dicirikan oleh keanekaragaman jenis fauna. Keanekaragaman jenis fauna menunjukkan kualitas tapak baik dengan kompoisi bahan organik yang berasal dari tegakan mangrove sendiri. Oleh karena itu, indikator vitalitas dan biodiversitas merupakan indikator penting untuk dapat menjelaskan kondisi kesehatan hutan mangrove.

2. Indikator Kesehatan Hutan Rakyat

Tingkat kepentingan (skala prioritas) indikator ekologis kesehatan hutan rakyat berturut-turut adalah indikator produktivitas, kualitas tapak, vitalitas, dan biodiversitas. Indikator produktivitas menempati tingkat kepentingan tertinggi dengan nilai 0,33, diikuti kualitas tapak dengan nilai 0,27, dan vitalitas dengan nilai 0,26, serta biodiversitas menempati tingkat kepentingan terendah dengan nilai 0,14. Nilai tingkat kepentingan untuk indikator produktivitas yang sangat tinggi (0,33) menunjukkan bahwa kontribusi indikator produktivitas pada pencapaian kesehatan hutan rakyat sangat tinggi. Tinggi rendahnya tingkat produktivitas dalam hutan rakyat menunjukkan tingkat keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Disisi lain, tingkat produktivitas ditentukan oleh dua faktor, yaitu: kondisi tapak tumbuh dan vitalitas tegakan.

3. Indikator Kesehatan Hutan Lindung (HKm)

Tingkat kepentingan (skala prioritas) indikator ekologis kesehatan hutan lindung (HKm) berturut-turut adalah indikator biodiversitas, vitalitas, produktivitas, dan kualitas tapak. Indikator biodiversitas menempati tingkat kepentingan tertinggi dengan nilai 0,36, diikuti vitalitas dengan nilai 0,25, dan produktivitas dengan nilai 0,20, serta kualitas tapak menempati tingkat kepentingan terendah dengan nilai 0,19. Nilai tingkat kepentingan untuk indikator biodiversitas yang sangat tinggi (0,36) menunjukkan bahwa kontribusi indikator biodiversitas pada pencapaian kesehatan hutan lindung (HKm) sangat tinggi. Tingkat biodiversitas pada suatu area, terutama keanekaragaman jenis, berkaitan erat dengan tingkat kestabilan ekologi pada suatu ekosistem.

4. Indikator Kesehatan Hutan Konservasi

indikator biodiversitas dan produktivitas menempati tingkat kepentingan tertinggi dengan nilai masing-masng 0,48, dan 0,28. Adapun kualitas tapak dan vitalitas menempati tingkat kepentingan terendah dengan nilai masing-masing 0,14 dan 0,10. Hal ini menunjukkan bahwa indikator biodiversitas dan produktivitas mampu memberikan jaminan kualitas dan dukungan dalam mengukur apa yang ingin diukur dalam kesehatan hutan konservasi. Adapun kualitas tapak dan vitalitas kurang mampu memberikan jaminan kualitas dan dukungan dalam mengukur apa yang ingin diukur dalam kesehatan  hutan konservasi. Biodiversitas pada suatu ekosistem dapat menjadi dasar pertimbangan dalam upaya konservasi jenis dan ekosistem yang merupakan habitatnya. Selain itu, biodiversitas mendukung fungsi produktivitas melalui peranannya pada kemampuan pulih kembali dari gangguan.

5. Status Kondisi Kesehatan Hutan Mangrove

Nilai CLI pada klaster plot satu lebih rendah dibandingkan dengan klaster plot dua. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Nilai VCR yang terbesar terdapat pada klaster plot satu yang menunjukkan kerapatan tajuk yang tinggi; dimana kondisi tajuk ini dapat menggambarkan stratifikasi pohon pada hutan mangrove. Nilai H’ tertinggi terdapat pada klaster plot dua yang menunjukkan keanekaragaman jenis epifauna yang lebih baik dibandingkan klaster plot yang lainnya. Keanekaragaman jenis merupakan parameter yang digunakan dalam mengetahui suatu komunitas. Keanekaragaman jenis epifauna menunjukkan kualitas tapak baik dengan komposisi bahan organik berasal dari tegakan mangrove sendiri. Untuk mengetahui nilai status kondisi kesehatan hutan mangrove dilakukan dengan melakukan perhitungan nilai akhir kondisi kesehatan hutan mangrove.

Klaster plot dua memiliki nilai akhir kesehatan hutan mangrove sebesar 4,51 dan memiliki kategori kesehatan hutan mangrove yang baik. Kondisi status tersebut disebabkan oleh tingginya nilai biodiversitas pada ekosistem hutan mangrove. Biodiversitas mangrove merupakan perpaduan antara flora dan fauna yang saling tergantung satu dengan yang lainnya sehingga total biodiversitas ekosistem mangrove menjadi lebih tinggi.

6. Status Kondisi Kesehatan Hutan Rakyat

CLI tertinggi terdapat pada klaster plot satu dibandingkan klaster plot dua. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai CLI menunjukkan tingkat kerusakan pohon pada tingkat klaster plot yang semakin tinggi. Oleh karena itu dampak seluruh kerusakan pohon akan mengakibatkan tingkat pertumbuhan yang menurun, kondisi tajuk yang rendah, kehilangan biomassa dan terutama berpengaruh terhadap kesehatan hutan. Nilai VCR tertinggi terdapat pada klaster plot dua dibandingkan klaster plot satu. Nilai KTK yang rendah antara lain karena reaksi tanah atau pH yang cukup rendah (H2O 5,8) dan persentase bahan organik yang kecil (C-organik 0,67% dan N-organik 0,07%).  Untuk mengetahui nilai status kondisi kesehatan hutan rakyat dilakukan dengan melakukan perhitungan nilai akhir kondisi kesehatan hutan rakyat. Nilai akhir kondisi kesehatan hutan rakyat merupakan hasil perkalian antara nilai tertimbang dengan nilai skor parameter dari masing-masing indikator ekologis kesehatan hutan rakyat.

Klaster plot satu memiliki nilai akhir kesehatan hutan rakyat sebesar 8,98 dan memiliki kategori kesehatan hutan rakyat yang baik. Kondisi status tersebut disebabkan oleh tingginya nilai pertumbuhan pohon (LBDS) dan kesuburan tanah (KTK) serta rendahnya nilai kerusakan pohon (CLI). Hal ini menunjukkan bahwa supaya kondisi kesehatan hutan rakyat sehat, maka pohon-pohon penyusun tegakan harus sehat, karena kerusakan pohon akan mempengaruhi laju pertumbuhan pohon. Selain itu, pohon akan mampu tumbuh dengan baik jika didukung oleh kualitas tapak tempat tumbuh pohon yang dapat menyokong pertumbuhan optimal tegakan yang ditunjukkan oleh kondisi kesuburan tanah.

 

7. Status Kondisi Kesehatan Hutan Lindung (HKm)

Nilai H’ terbesar terdapat pada klaster plot satu dibandingkan dengan klaster plot dua. Hal tersebut menunjukkan bahwa komunitas vegetasi pada klaster plot satu pada kondisi lingkungan sangat stabil.  Hal ini menunjukkan bahwa supaya kondisi kesehatan hutan lindung (HKm) sehat, maka pohon-pohon penyusun tegakan harus berada dalam keadaan sehat karena kerusakan pohon dan kondisi tajuk yang tidak sehat akan mempengaruhi laju pertumbuhan pohon. Nilai LBDS yang terbesar terdapat pada klaster plot dua yang menujukkan tingkat perubahan pertumbuhan pohon yang tinggi.

Klaster plot dua memiliki nilai akhir kesehatan hutan lindung (HKm) sebesar 5,14 dan memiliki kategori kesehatan hutan lindung (HKm) yang baik. Kondisi status tersebut disebabkan oleh tingginya nilai skor pertumbuhan pohon (LBDS) dan kondisi tajuk (VCR).  Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya nilai skor dapat menunjukkan tingkat kesehatan suatu ekeositem hutan.

7. Status Kondisi Kesehatan Hutan Konservasi

Nilai H’ (keanekaragaman jenis pohon) pada klaster plot satu lebih tinggi dibandingkan dengan klaster plot dua. Hal ini menunjukkan bahwa makin tinggi nilai keanekaragaman jenis pohon pada suatu area akan meningkatkan pula keragaman fungsi ekologi yang pada akhirnya akan menghasilkan peningkatan pada tingkat stabilitas ekologi. Adapun nilai LBDS tertinggi pada klaster plot dua. Tinggi nya LBDS ini akan mempengaruhi pertumbuhan pohon. Klaster plot dua memiliki nilai akhir kesehatan hutan konservasi sebesar 7,74 dan memiliki kategori kesehatan hutan konservasi yang baik. Nilai akhir kondisi kesehatan hutan konservasi dalam kategori baik dipengaruhi oleh besar kecilnya nilai tertimbang dan nilai skor dari masing-masing parameter indikator ekologis kesehatan hutan konservasi. Semakin besar nilai tertimbang dan nilai skor dari masing-masing parameter indikator ekologis kesehatan hutan konservasi, maka semakin tinggi nilai akhir kondisi kesehatan hutan konservasi.

 

·         Kesimpulan

Indikator penilaian kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan di Provinsi Lampung adalah produktivitas, vitalitas, kualitas tapak, dan biodiversitas. Indikator tersebut dapat digunakan, baik dua/tiga/empat indikator secara bersamaan atau terpisah untuk menilai kesehatan hutan. Penggunaan indikator tersebut digunakan sesuai dengan ekosistem tipe hutan. Nilai status kondisi kesehatan hutan pada berbagai tipe hutan di Provinsi Lampung adalah buruk/sedang/baik. Kondisi status kesehatan hutan tersebut berdasarkan indikator penilaian kesehatan hutan pada masing-masing tipe hutan.

·         Kelebihan penelitian

1.         Penjelasan sangat detail

2.         Dasar teori yang tepat

·         Kekurangan penelitian

1.         Masih kurangnya analisis yang dilakukan peneliti

2.         Bahasa yang digunakan penulis masih sangat susah dimengerti.

 

Riview Jurnal Penilaian Hutan

  Nama                                   : Siti Annisa NIM                                        : 181201047                     Kelas ...